Artikel 3 pandangan Islam


KENAJISAN KHAMAR

Oleh:  Tgk M. Rizwan Haji Ali, S.Ag, MA

Najis secara bahasa bermakna kullu mustaqzar (segala sesuatu yang menjijikkan, kotor). Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab berkata, al-Najs, al-nisj, dan al-najas adalah tinja manusia dan dari segala yang sesuatu yang Anda pandang menjijikkan. Kata ini diambil dari kata najisa-yanjisu-najsan-fa huwa najas wa najis. Bentuk jamaknya adalah anjas. Seorang yang bernajis adalah seorang yang kotor dan menjijikkan. Karena itu syari’at memerintahkan supaya najis dihilangkan dengan cara menghilangkan zat, rasa dan baunya.

Dalam al-qur’an Allah SWT berfirman “sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis” (al-Taubah:28), yaitu kotor keyakinannya. Prof Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub mengutip pendapat al-Fairuzabadi mengatakan, al-najas dan al-najis adalah kebalikan dari kata al-thahir (suci). Dalam Mu’jam al-Wasith disebutkan bahwa al-najasah adalah qadzarah (kotor). Dikatakan si fulan najas, artinya ia kotor dan durhaka.

Pendapat Ulama

Para ulama menafsirkan ayat al-Qur’an “Hai orang-orang beriman sesungguhnya orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini (9 Hijriah) (al-Taubah: 28). Kalangan mazhab Hanafi seperti al-Jashah mengatakan: Secara syar’i najis itu dapat dipahami dengan dua pengertian: najis benda dan najis dosa.” Dengan demikian, beliau membagi dua bentuk najis yaitu najis benda dan najis dosa. Kalangan mazhab Hanafi memandang bahwa keharaman (at-tahrim) adalah dalil atas kenajisannya. Setiap yang haram adalah najis.    

Kalangan Syafi’iyah memberi definisi yang lebih lugas tentang najis. Imam Syeikh Zakaria al-Anshary (w 926 H) dalam kitab Asna al-Mathalib berkata sebagai berikut:

“Najis adalah setiap benda (‘ain) yang haram dikonsumsi secara mutlak, dalam keadaan bebas atau normal (fi halatil ikhtiyar, tidak di bawah tekanan), mudah dibedakan (tamyiziha), dapat digunakan, bukan karena kemuliaannya, bukan karena dipandang jijik dan bukan karena berbahaya kepada tubuh dan akal.”

Dengan demikian, menurut Syeikh Zakaria al-Anshary, najis adalah sesuatu yang haram dikonsumsi secara mutlak. Bukan karena sifatnya atau komposisinya atau karena kemudharatannya. Hal itu mengecualikan bangkai manusia yang walaupun haram dikonsumsi tetapi karena kemuliaan manusia (anak adam), maka tetap suci bukan najis.

Kenajisan Khamar

Sebagian ulama menempatkan pembahasan khamar sebagai pembahasan utama dalam persoalan najasah. Ada dua istilah yang dipergunakan ulama dalam kenajisan khamar yaitu khamar dan nabiz. Khamar dan nabiz kedua-duanya haram. Perbedaannya keduanya adalah sebagai berikut.

Khamar merupakan perasan dari anggur yang sudah difermentasi. Sementara nabiz adalah perasan selain dari anggur. Dalil kenajisan khamar dalah firman Allah SWT “sesungguhnya khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah rijs, termasuk perbuatan syaitan (al-Maidah: 90). Kata rijs menurut istilah syara’ adalah najis.

Para ulama sepakat pada keharaman khamar karena ia memabukkan. Hadist yang terkenal Nabi Saw bersabda: Kullu muskirin khamrun wa kullu muskirin haramun. Setiap yang memabukkan adalah khamar, setiap yang memabukkan adalah haram.

Kenajisan alkohol

Dalam khamar terdapat alkohol. Alkohol dalam bahasa Latin sering disebut esperitus.  Seperti dikutip oleh Prof Dr. KH Ali Mustafa Yaqub dari Prof dr. Muhammad Sa’id as-Suyuthi, istilah alkohol dalam bahasa Arab alcool merupakan istilah yang diambil dari bahasa Perancis cohol. Namun, Ali Mustafa Yaqub menduga bahwa istilah ini berasal dari al-Qur’an sendiri yaitu kata ghaul dalam ayat: la fiiha ghaulun wa laa hum ‘anha yunzafun (tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya) (QS.As-Shaffat: 47). Ayat ini tentang khamar di surga yang halal karena tidak mengandung alkohol dan tidak memabukkan.

Dalam khamar terdapat alkohol (espiritus) yang dapat membahayakan. Secara ushuli Prof. Dr Ali Mustafa Yaqub menguraikan tentang adanya alkohol dalam khamar, dan berkesimpulan bahwa alkohol itu juga najis seperti halnya khamar.

Beliau berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa minuman khamar tidak dinyatakan khamar kecuali setelah ia menutupi akal sehat (khamarat al-aql). Minuman tersebut tidak dapat menutupi akal kecuali setelah ada zat yang memabukkan di dalamnya. Zat yang memabukkan yang menjadikan khamar menjadi haram adalah alkohol.

Demikian pendapat Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub tentang kenajisan alcohol karena ‘ilat (causa legis) bahwa penyebab haram dan najisnya khamar adalah karena adanya alkohol. Wallahu’alam bisshawab.   

 








Post Terkait

  • Baca

    Artikel 1 pandangan...

  • Baca

    Artikel 12 Focus...

  • Baca

    Artikel 11 Focus...

  • Baca

    Artikel 9 Focus...