Artikel 4 pandangan Islam


PRADUGA TIDAK BERSALAH

Oleh:  Tgk M. Rizwan Haji Ali, S.Ag, MA

 

APABILA kita membaca berita atau informasi di media, baik media massa atau media sosial, tentang seseorang yang diberitakan atau diinformasikan bersalah karena melakukan sebuah kesalahan baik pelanggaran hukum atau pelanggaran norma sosial, kebanyakan kita kemudian memberi “vonis” seseorang tersebut telah bersalah sebagaimana yang diinformasikan itu. Kita tidak melakukan proses tabayyun (klarifikasi atau konfirmasi) apalagi apabila berita tersebut beredar seperti kabar burung tanpa kejelasan sumber. Akibatnya, tanpa sengaja atau tanpa sadar kita telah berburuk sangka kepada orang lain. Berburuk sangka merupakan suatu dosa.

Dalam hukum dikenal istilah “presumption of innocent,” atau praduga tidak bersalah. Maknanya, seseorang harus dianggap tidak bersalah sampai ada keputusan berkekuatan hukum tetap bahwa oran tersebut bersalah oleh pengadilan. Dengan prinsip ini, seorang tersangka masih memiliki hak untuk membela diri dan membersihkan nama baiknya di depan masyarakat.

Dalam Islam, praduga tidak bersalah atau berbaik sangka terhadap orang lain harus lebih diutamakan daripada berburuk sangka atau menganggap orang lain telah bersalah. Bahkan, sikap berburuk sangka akan menciptakan ghibah atau namimah yang ujung-ujungnya bisa menjadi fitnah. Hadits yang sangat populer di kalangan ummat Islam adalah sabda Nabi Saw:

كل مولود يولد على الفطرة

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.”

Apabila pendakwa tidak memiliki alat bukti yag kuat, maka terdakwa bisa dimenangkan dengan hanya mengajukan hujah yang lemah, yaitu sumpah. Nabi Saw bersabda:

لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لاَدَّعَى رِجَالٌ اَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ, وَلَكِنَّ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِيْ وَالْيَمِيْنَ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ.

“Andaikan seseorang dituruti berdasarkan dakwaannya, tentu semua orang akan menuntut darah orang lain dan hartanya, tetapi bukti adalah kewajiban pendakwa dan sumpah merupakan kewajiban pihak yang mengingkari (dakwaan).

Hadist lain:

عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَبَسَ رَجُلاً فِى تُهْمَةٍ ثُمَّ خَلَّى سَبِيلَهُ. (رواه النسائي والترمذي وحسنه)

“Rasulullah menahan seseorang yang terduga bersalah, lalu melepaskannya” (HR al-Nasai dan al-Tirmidzi, ia menilainya hasan)

tentang hadist ini disebutkan bahwa Rasulullah menahan seseorang karena adanya satu tuduha, lalu diperiksa kebenaran tuduhan tersebut. Setelah diperiksa yang bersangkutan tidak terbukti bersalah maka kemudian dilepaskan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam dibenarkan melakukan penahanan untuk tujuan pemeriksaan yang waktunya satu hari satu malam yang bisa dikonversi secara waktu yaitu selama 24 jam. Setelah itu, apabila tidak bersalah maka wajib dilepaskan. Hal itu itulah yang dilakukan Rasulullah.

Dengan demikian, kehati-hatian kita sangat dibutuhkan dalam menuduh orang lain bersalah. Asas praduga tidak bersalah sangat penting diterapkan karena hal itu akan menjaga sikap buruk sangka atau salah menghakimi orang lain. Wallahu’alam bisshawab.








Post Terkait

  • Baca

    Artikel 1 pandangan...

  • Baca

    Artikel 8 Focus...

  • Baca

    Artikel 7 Focus...

  • Baca

    Artikel 5 Daftar...